Waspadai Kebangkitan Komunis!!!

0
191

Serangkaian kasus pembunuhan, pembegalan dan penganiayaan terhadap ulama/ustadz serta pembakaran mimbar masjid yang terjadi di berbagai daerah belakangan ini memperkuat ingatan kita akan keganasan PKI menjelang September 1965. Apalagi disusul kabar raibnya diorama pemberantasan PKI dan pahlawan revolusi di Museum Kostrad menambah keyakinan kita bahwa kebangkitan komunis di Indonesia sudah tidak terbantahkan.

Jika kita jeli mengamati dan menghimpun berbagai peristiwa dan kejadian di tataran nasional dalam kurun 2-3 tahun belakangan ini, maka hanya orang gila atau simpatisan ideologi komunis saja yang masih membantah bahwa semua itu menjadi indikasi kebangkitan komunis di Indonesia.

Masih segar dalam ingatan kita rakyat Indonesia ketika tiba-tiba saja muncul Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP yang menghebohkan dunia perpolitikan nasional tahun lalu.

Setelah RUU kontroversial ini ditarik karena memeras sila-sila Pancasila dari lima menjadi tiga (trisila) dan kemudian satu (ekasila) yang substansinya meniadakan Tuhan dari semua agama, muncul Visi Pendidikan pada Peta Jalan Pendidikan 2035 yang tidak ada kata ‘agama’.

Setelah sukses, mereka terus bergerak dengan mengeluarkan PP No.57 tentang Sisdiknas yang tidak mewajibkan Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran wajib dari semua jenjang pendidikan di Tanah Air.

Meski masih dalam perdebatan, namun di jenjang SMP mata pelajaran PPKN sudah ditiadakan. Selain itu, penerus ideologi komunis tidak mau kalah dan terus bergerak. Lalu di dalam Kamus Sejarah Indonesia tidak lagi memuat nama pendiri NU KH Hasyim Ashari dan malah memasukkan seabrek tokoh-tokoh komunis.

Lalu muncul pertanyaan di benak rakyat. Siapa sesungguhnya penerus ideologi komunis di Indonesia?– yang selama ini selalu dibantah pemerintah dengan mengatakan PKI sudah mati. Tapi sejatinya tokohnya boleh masuk kubur, tetapi ideologinya tidak akan pernah mati dan akan terus dikembangkan oleh anak cucunya.

Kenapa begitu? Sebab dari sekian upaya menghidupkan kembali komunis di Indonesia, Mendiknas Nadiem Makarim dengan enteng saja menyebut, khilaf dan Presiden tidak mempersoalkan kefatalan yang diperbuat menterinya, apalagi mencopotnya. Padahal yang diperbuatnya jelas-jelas jalan menuju bangkitnya komunisme di Indonesia.

Rakyat bisa berspekulasi bahwa semua ini—kelihatannya mulai dari RUU, peta jalan pendidikan, PP No.57, hingga Kamus Sejarah tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi secara berurutan dan sistematis–bagian dari cara Presiden dan Mendiknas menjalankan instruksi Ketua Umum PDIP Megawati agar Mendiknas meluruskan sejarah 1965???

Bahkan terakhir, tiba-tiba saja diorama penumpasan G30S/PKI dan para pahwan revolusi di Museum Kostrad raib. Termasuk keengganan TVRI yang slogannya pemersatu bangsa menayangkan film G30S/PKI. Apakah ini bukan sebuah skenario besar untuk menghapus sejarah kelam komunis di Indonesia???.

Ditambah pula pernyataan dan analisa Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang sudah mengingatkan bangsa Indonesia mengenai ciri-ciri kebangkitan PKI. Dari, adanya nuansa kelompok-kelompok tertentu yang mengusulkan agar Tap MPRS 25 tahun 1966 dihapus. Adapun Tap MPRS itu berkaitan dengan pelarangan ideologi komunis di RI.

Lalu, soal sejarah G30S/PKI yang mulai dihapus dari kurikulum. Kemudian muncul RUU rekonsiliasi, litsus dihapuskan. Yang terbaru agama akan dihilangkan dari kurikulum pendidikan. Tapi setelah diprotes tak terjadi, namun ada upaya untuk itu. Bahkan Gatot punya data partai yang menyekolahkan kader-kadernya ke Partai Komunis China.

Pernyataan dan analisa Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tersebut diperkuat pula oleh hasil survei lembaga survei Median dengan tema ‘Persepsi Publik Atas Isu Komunisme dan Reshuffle Kabinet’, beberapa hari lalu. Sebanyak 46,4% masyarakat percaya terhadap isu kebangkitan komunisme dan PKI, dimana 12,3% menilai karena ada TKA China dan proyek-proyek China yang sedang dikerjakan di Indonesia.

Kemudian 12% menyatakan karena ulama banyak ditangkap, 11,8% karena Indonesia tergantung vaksin dari China, negara China ingin mencaplok Natuna 9,4%, sejarah tentang komunis dikaburkan 6,6%, banyak serangan ke penceramah 5,4%, dan komunis tidak akan pernah mati 1,3%.

Dari data dan fakta di atas, kita anak bangsa yang masih cinta NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 jangan sampai terlambat. Penulis masih ingat betul ketika di awal tahun 1965, ada tajuk rencana Majalah Sket Massa menampilkan judul “Ibu Pertiwi Hamil Tua” yang isinya menguraikan sejumlah indikator bahwa pertentangan PKI dengan ABRI kian menganga. Hanya berselang tujuh bulan kemudian benar-benar terjadi, “Ibu Pertiwi Bersimbah Darah”. Dua kali terjadi perang dunia, jumlah jenderal yang mati tidak sebanyak dalam peristiwa G30S/PKI tersebut.

Artinya pemberontakan PKI akhir September tersebut “lebih luar biasa” dibandingkan dengan dua kali perang dunia yang melibatkan semua negara besar di dunia ini. Apalagi kemudian, jika kita hitung penduduk sipil yang mati dibunuh, baik sebelum pemberontakan atau pun setelahnya juga mungkin lebih besar dibandingkan dengan perang dunia.

Jadi jika rakyat masih tidak waspada maka yakinlah selangkah lagi komunis akan kembali berkuasa di Indonesia. Dan bukan tidak mungkin nasib umat Islam—terutama– akan diperlakukan seperti Muslim Uighur oleh pemerintah komunis Tiongkok. Indikasi ke arah itu sudah terang benderang dengan kian banyaknya ustadz yang dibunuh dan dianiaya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here