Konsumsi Telur dan Ayam Masih Bisa Digenjot

0
157

JAKARTA (TRABAS.CO)—Komoditas perunggasan dalam hal ini telur dan ayam merupakan andalan masyarakat untuk pemenuhan konsumsi pangan protein hewani. Pasalnya, komoditas pangan dari perunggasan memiliki kandungan gizi yang tinggi, tersedia di hampir seluruh wilayah di Indonesia, dengan harga yang relatif terjangkau.

Demikian terungkap dalam webinar dengan tema “Geliat Bisnis Udang dan Unggas di Tahun Macan Air” yang digelar Majalah Agrina melalui kanal Zoom Meeting, Kamis, (10/3).

Salah satu narasumber Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) drh. Desianto B Utomo, Ph.D., memaparkan, peluang pakan agro sangat dominan sampai 90% dari pendapatan industri pakan. Pembicara juga menilai masih terbuka peluang untuk peningkatan konsumsi daging unggas yang menyumbang sekitar 65% dari konsumsi protein hewani masyarakat.

“Hal tersebut berdasarkan asumsi konsumsi daging unggas yang masih rendah dimana sebelum pandemi konsumsi daging unggas mencapai 12,5 kg/kapita/tahun, saat pandemi turun menjadi 9,7 kg/kapita/tahun. Masih ada peluang untuk masyarakat meningkatkan konsumsi daging unggas dimana jika merujuk pada negara tetangga Malaysia, konsumsi daging unggas Malaysia mencapai 45 kg/kapita/tahun,” tuturnya.

Telur, lanjutnya, juga masih rendah, konsumsinya masih di bawah Malaysia hingga separuh atau sepertiganya. Maka dari itu peluang untuk tumbuh masih bisa terjadi jika didukung oleh daya beli masyarakat yang erat kaitannya dengan makroekonomi Indonesia.

Sementara Dewan Redaksi Majalah Agrina, Dr. Ir. Rachmat Pambudhi, MS. dalam pemaparannya mengatakan, di era pandemi Covid-19 kali ini memang seluruh masyarakat harus aktif dan proaktif untuk mencari terobosan baru dalam mencari inovasi dalam produksi pangan kita khususnya dalam pangan bidang perunggasan dan udang.

“Unggas berperan penting terhadap pemenuhan pangan berkualitas dimana di dalamnya terkandung banyak sekali asam amino esensial tinggi. Di dalam daging dan telur ayam juga terkandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh kita khususnya dalam pembangunan SDM yang berkualitas dan berdaya saing unggul terutama untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan manusia Indonesia,” ujarnya.

Fluktuatif

Selanjutnya Dr. Ir. Musdalifah Machmud, MT selaku Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Perekonomian membahas terkait bagaimana perjalanan harga unggas dan apa langkah yang perlu diambil untuk komoditas perunggasan ke depannya.

Ia menerangkan bahwa harga livebird di tingkat peternak pada tahun 2022 cenderung mengalami peningkatan pada awal tahun, dengan harga tertinggi berada di angka Rp23.000-Rp24.000 per kg untuk rerata nasional. Namun selanjutnya mengalami perurunan setelahnya hingga di bawah harga acuan pada pertengahan bulan Februari.

“Sementara itu, untuk harga telur ayam ras di tingkat peternak pada awal tahun 2021 tren cenderung turun dan berada di bawah harga acuan pada akhir Januari hingga pertengahan Februari. Saat ini, harga telur ayam ras juga sudah mulai mengalami peningkatan. Untuk rata rata livebird per 7 Maret 2022 mencapai Rp20.552 per kilogram. Harga telur ayam ras nasional mencapai Rp21.535,” ujarnya. (aca/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here