Peserta Rektor Dan Wakil Rektor Terbanyak, Unila Kembali Dapat Rekor MURI

0
100
Foto bersama saat mendapatkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai peserta rektor dan wakil rektor terbanyak perguruan tinggi negeri. Foto Febri

TRABAS.CO, BANDARLAMPUNG –Universitas Lampung (Unila) kembali mendapatkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai peserta rektor dan wakil rektor terbanyak perguruan tinggi negeri.

Sebelumnya, rekor MURI diraih sebagai mengukuhkan guru besar terbanyak dalam satu waktu beberapa hari yang lalu.

Webinar tersebut diikuti 250 Rektor dan Wakil Rektor serta empat ribu orang peserta, melalui Luring maupun Daring, dengan tema Strategi Meningkatkan Jumlah Guru Besar dan Mempercepat Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen di gedung Rektorat Unila, Selasa (5/4/2022).

Dalam kesempatan itu Founder of Muri Jaya Suprana menjelaskan Pemerintah Indonesia berupaya untuk mengejar kekurangan profesor yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di perguruan tinggi.

“Oleh karena itu diperlukan akselerasi dengan melakukan perubahan dalam ruang aktualisasi dosen untuk mengembangkan potensi dan bakat. Jumlah minimum penelitian dosen tidak dibatasi jumlah maksimal hal ini sesuai dengan slogan merdeka belajar,”jelasnya.

Diharapkan melalui kegiatan ini dapat tercipta sinergi untuk meningkatkan jumlah guru besar di Indonesia,”tambah Jaya Suprana.

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa, Karomani
menjadi Pembicara bersama Anggota Komisi X DPR RI, Prof Dr Ir Djohar Arifin Husin, dalam webinar nasional.

Dalam webinar tersebut, Karomani mengungkapkan beberapa langkah yang dilakukan Unila dalam pencapaian percepatan Guru Besar.

Pertama, manajemen kepemimpinan dan pemberdayaan dosen.

“Saya punya diksi, istilah jembar. Kalau manajemen kepemimpinannya tidak jembar akan sulit kita ingin mempercepat Guru Besar,”paparnya.

Makna diksi jembar yang dimaksud Karomani, yaitu selesai dengan diri sendiri.

Strategi kedua adalah membuat Tim percepatan guru besar dan melakukan pendampingan.

Ketiga, membuat Peraturan Rektor untuk memberi insentif bagi dosen. Keempat, memberi dana penelitian yang cukup untuk para dosen, “terangnya

Ia menjelaskan dana penelitian yang ideal sebesar 10% dari PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).

“Mudah-mudahan PNBP Unila tahun 2022 bisa Rp400 miliar, maka saya janji untuk penelitian dosen kita anggarkan Rp40 miliar,” ujar dia.

Terakhir yang kelima, membuat sistem kenaikan pangkat lebih transparan dan akuntabel.

“Dosen bisa memasukkan sendiri poin-poin Tri Dharma Perguruan Tingginya dalam sistem. Jadi bisa menghitung sendiri capaian poin, apakah sudah layak naik Guru Besar atau tidak,”ungkapnya.

Sementara Anggota Komisi X DPR RI, Djohar Arifin Husin, yang juga Koordinator Kopertis Wilayah I (2000-2003) optimis bisa mendorong percepatan jumlah Guru Besar di Indonesia. Memberikan kewenangan atau otonomi lebih besar kepada kampus dengan Semangat Kampus Merdeka.

“Tidak perlu ada lagi tim di kementerian, karena kampus lah yang paling tahu kualitas dosen yang ada di lingkungan perguruan tinggi masing-masing,”tutupnya.(Feb)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here