BBM

0
62

Salam Merdeka, Trabas. Co – Meski demo berlangsung di seantaro negeri, namun Presiden Jokowi tidak bergeming untuk menurunkan kembali harga BBM subsidi yang sudah dinaikkannya awal September lalu. Sebab sejatinya, faktor penyebab kenaikan harga BBM subsidi bukan karena naiknya harga minyak global. Buktinya, minggu lalu harga minyak global sudah turun hingga 80 dolar AS per barel dari belumnya 140 dolar AS per barel atau sudah mengalami penurunan harga sekitar 43 persen.

Memang ada pernyataan dari Menkeu Sri Mulyani bahwa pemerintah memangkas subsidi BBM untuk membayar utang. Ini tentu pengakuan jujur seorang menteri keuangan yang katanya terbaik di dunia. Pasalnya memang 44,86 persen penerimaan negara digunakan untuk membayar utang pemerintah. Dan kebetulan pula kreditor terbesar pemerintahan Jokowi, yakni China minta cicilan utang Indonesia lancar karena mereka juga butuh dana besar karena ekonominya sedang merosot.

Namun mengikuti sejumlah pernyataan Jokowi setelah harga BBM subsidi dinaikkannya, rakyat juga kian mafhum bahwa selain untuk bayar utang, pemerintah juga butuh dana mega untuk membangun ibukota negara (IKN) di Kaltim. Buktinya, beberapa hari setelah harga BBM subsidi naik, Jokowi minta proyek pembangunan IKN masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) dan harus sudah selesai sebelum tahun 2024.

Untuk kelancaran pembangunan proyek IKN tersebut, pemerintah menggelontorkan puluhan triliun uang rakyat. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, anggaran proyek pembangunan IKN di tahun 2023 mencapai Rp23,6 triliun. Alokasi anggaran Rp23,6 triliun tersebut pagunya akan dimasukkan ke dalam beberapa kementerian dan lembaga.

Lalu proyek mega lainnya yang juga mau diselamatkan Jokowi dari uang rakyat yakni proyek Kereta Cepat (KA) Jakarta-Bandung. Pembengkakan biaya proyek KA Jakarta-Bandung ditambal dengan kucuran dana dari kas negara. Usulan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2022 sebesar Rp 4,1 triliun telah disetujui Komisi VI DPRI RI. Besaran beban yang harus ditanggung tersebut di luar dari suntikan modal yang telah diberikan pemerintah belum lama ini.

Bagi rakyat yang mengerti sejarah, tidak akan kaget dengan ambisi Jokowi membangun IKN dan kereta cepat. Sebab pada era Orde Lama, ketika rakyat Indonesia kelaparan karena ekonomi merosot, pada tahun 1960 Presiden Soekarno juga bersikukuh membangun Stadion Gelora Senayan dan Monas. Padahal saat itu keuangan pemerintah juga sedang cekak. Bahkan untuk menghibur rakyat yang sedang kesulitan beras, Presiden Soekarno mengajak rakyat makan jagung. Untung sekarang Jokowi tidak mengajak rakyat makan jagung, mungkin karena jagung juga mahal.

Lalu jika kita runut ke belakang lagi, yakni ke sejarah Romawi kuno memang ada tipikal pemimpin uang tidak begitu mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Dalam buku sejarah Kekaisaran Romawi yang berlangsung dari abad 31 SM hingga 475 SM, disebutkan, kekaisaran Romawi memiliki bentuk pemerintahan monarki yang dipimpin oleh seorang kaisar. Salah satu kaisar yang pernah memimpin Romawi adalah Caligula atau Gaius Caesar.

Disebutkan, Caligula mulai naik tahta pada tahun 37 Masehi setelah Tiberias wafat. Ia memimpin hingga 41 Masehi. Masa pemerintahannya yang pendek ditandai dengan kekejaman yang luar biasa. Ia terkenal sebagai kaisar yang kerap melakukan kebijakan sesuai ambisinya.

Mulai dari sering memerintahkan rakyatnya untuk bunuh diri, berhubungan dengan saudari kandungnya sendiri, dan melakukan hal semena-mena lainnya. Tak heran, jika Caligula dikenal sebagai kaisar Romawi yang kejam dan gila.

Apakah Jokowi termasuk pemimpin yang tidak begitu mementingkan kesejahteraan rakyatnya, saya tidak mengatakan demikian. Terserah rakyat yang menilainya. Tetapi yang pasti, pemerintah ngotot untuk memindahkan ibukota, membangun bandara walau banyak yang tidak terpakai, membangun kereta cepat dan seabrek proyek mega lainnya yang tidak begitu urgen bagi rakyat yang sedang menderita akibat melonjaknya berbagai harga kebutuhan hidup.

Bahkan bisa saja Jokowi berkeinginan untuk menempati istana baru di Kaltim nantinya selama lima tahun lagi alias berhasrat untuk menjabat tiga periode. Jika rakyat merasa “nyaman” dengan berbagai kesulitan akibat kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, ya kita mau apa. Apalagi sebagian besar partai politik sudah berada di barisan pendukungnya. Lalu rakyat Indonesia juga bermental nrimo, mudah diadu domba dan susah bersatu walau untuk kebaikan bersama.

Mengutip pernyataan Chairul Tanjung, CEO Trans Corp, “banyak di antara kita yang SMS = senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Jauh sebelumnya penyair besar Indonesia Muchtar Lubis juga menulis buku berjudul “Manusia Indonesia”.

Mochtar menyebut bahwa ada enam sifat manusia Indonesia yang khas, melekat, dan juga akan sulit diubah. Keenam sifat tersebut adalah (1) munafik atau hipokrit, (2) enggan dan segan bertanggung jawab, (3) berperilaku feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik, dan (6) berkarakter lemah. Barangkali karena sifat itu pula nenek moyang kita dengan mudah dijajah Belanda hingga 350 tahun lamanya.

Jika sekarang sudah delapan tahun rakyat menderita dan diadu domba oleh penguasa, bisa jadi akan terus berlanjut jika sifat munafik, feodal dan berkarakter lemah tersebut tidak diubah menjadi sifar-sifat yang bernilai positif dan bertekad bulat untuk merdeka menuju keadilan dan kesejahteraan bagi segenap bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

Jangan lagi kita biarkan negara dan bangsa ini dikendalikan oleh sekelompok politisi yang bersekongkol dengan ologarki yang “benar-benar mabok” (BBM) kuasa dan harta serta dunia. Yakinkan jika kita bersungguh-sungguh berjuang, Allah SWT akan membantu kita, sebagaimana bunyi surat QS. Ar-Ra’d Ayat 11.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Syafnijal Datuk/Lampung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here