Kemenkeraf RI Dukung Penggalian Kapal Eks Krakatau

0
116

JAKARTA (TRABAS.CO)—Tim Penelitian Kapal eks Krakatau (Krakatoa Exploration Team) diundang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenkeraf) Republik Indonesia untuk memaparkan perkembangan penelitian di depan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dan Infrastruktur Kemenkeraf di Jakarta, Kamis (09/05/2022).

Pertemuan tersebut atas pendelegasian Menteri Pariwisata Sandiaga Uno dalam rangka memberikan dukungan terhadap proyek penelitian benda-benda cagar budaya yang nantinya akan dijadikan destinasi wisata unggulan baru di Tanah Air.

Dari tim Krakatoa Exploration Team hadir penasihat Muswir, inisiator/peneliti Hadi Subroto, HRD/PR Rachmatullah dan anggota tim Rahmat. Sementara dari Kemenkeraf hadir Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dan Infrastruktur Vincensius Jemadu dan tim. Pertemuan berlangsung ruang rapat Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dan Infrastruktur Kemenkeraf.

Setelah mengikuti pemaparan dari inisiator Hadi Subroto, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dan Infrastruktur Vincensius Jemadu menyatakan, pada prinsipnya pihaknya sangat kagum dengan perkembangan penelitian yang sudah dijalankan Krakatoa Exploration Team secara swadaya/mandiri.

“Kami ditugaskan Bapak Sandi untuk menyerap semua presentasi dari tim. Setelah Bapak Sandi kembali dari dinas ke Sulawesi, maka kami akan laporkan presentasi dari tim. Selanjutnya baru akan diputuskan Bapak Menteri bentuk dukungan dari Kemenkeraf terhadap penelitian/penggalian kapal eks Gunung Krakatau tersebut,” jelas Vincensius Jemadu pada bagian akhir pertemuan.

Dalam pertemuan tersebut Hadi Subroto memaparkan, penelitian tersebut merupakan bagian dari penelitian tentang dampak tsunami dan gempa Gunung Krakatau pada tanggal 26-27 Agustus 1883 terhadap wilayah pesisir di sekitar Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan yang dimulai sejak tahun 2013. Dalam citra satelit terdapat penampakan permukaan tanah bekas jejak longsoran di sekitar Bukit Kapayang, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni.

“Lalu dari hasil pengujian geolistrik tampak jelas bahwa di bekas longsoran itu terdapat objek membentuk anomali yang menyerupai irisan sebuah lambung kapal dengan posisi mengguling menghadap ke timur dengan ukuran tinggi lambung dan dak masing-masing sekitar 15 meter,” ujar Hadi.

Ia menyebutkan, bentuk itu identik dengan dengan foto satelit dan analisa pergeseran jejak longsoran. Diperkirakan terdapat kapal kuno yang tertimbun setelah terseret tsunami akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Kapal itu menyangkut di puncak Bukit Kepayang dengan ketinggian 155 meter di atas permukaan laut. Selanjutnya kapal bergerak menuruni lereng bukit yang memiliki kemiringan sebesar 20 derajat sejauh sekitar 150 meter di lereng bukit pada ketinggian 125 meter di atas permukan laut.

Tidak hanya sampai di situ, kapal mengalami longsor untuk kedua kalinya sejauh 150 meter hingga di dasar bukit. Posisi terakhir ini, pola bayangan berbentuk mirip lambung sebuah kapal berada pada gundukan sepanjang 200 meter membentang dari utara ke selatan.

Penelitian berlanjut dengan melakukan penggalian secara manual dari puncak gundukan longsor menggunakan metode pembuatan sumur dengan peralatan pahat batu hingga kedalaman 34 meter. Lalu diikuti dengan penggalian menggunakan eksavator sedalam 20 meter di bagian depannya yakni di lereng bukit.

“Melalui penggalian dengan membuat sumur manual pada kedalaman 34 meter, pada dinding lapisan batu bagian bawah dan samping, sudah kedengaran bunyi menggema jika dipalu yang mengindikasikan adanya ruang kosong dari logam. Jika penggalian dilanjutkan maka diperkirakan tidak sampai dua meter lagi sudah bertemu dinding kapal,” jelas Hadi yang menyebutkan penelitian sudah menghabiskan dana mencapai Rp2 miliar, termasuk pembebasan lahan.

“Penggalian untuk menemukan dinding serta pengeboran dinding kapal diperlukan dana sebesar Rp 250 juta. Itu sudah termasuk kegiatan ekspos penemuan melalui berbagai media di dalam dan luar negeri dan mengundang pejabat terkait serta pakar-pakar/peneliti ke lokasi serta roadshow menjaring investor untuk proses eksploitasi,” urai Hadi.

Selanjutnya baru akan dilakukan eksploitasi kapal dan mengidentifikasi isi kapal serta membangun gedung untuk menyimpan benda-benda cagar budaya yang terdapat di dalam kapal serta fasilitas penunjang lainnya untuk selanjutnya dijadikan desinasi wisata ungulan. Untuk kegiatan ini dibutuhkan biaya sebesar Rp 568 miliar.

Menurut Hadi, kebutuhan biaya hingga lebih setengah triliun tersebut cukup feasible dibandingkan nilai kapal kuno berusia 140 tahun atau hampir 1,5 abad sebagai cagar budaya unggulan yang ditemukan di Indonesia.

Mengenai jenis, isi serta negara pemilik kapal yang sedang digali, menurut Hadi, pihaknya sudah mempelajari sejarah dan dokumen-dokumen tsunami dan letusan Gunung Krakatau baik di museum di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada saat bencana hebat tersebut kapal apa saja yang hilang. Dari arsip nasional Indonesia, terdapat 4 kapal yang hilang akibat tsunami/letusan Gunung Kakakatau, dan satu di antaranya yakni Kapal de Brow yang terbawa tsunami ke Sumur Putri, Kota Bandarlampung sudah ditemukan, namun sudah dipreteli warga.

“Tiga kapal lainnya adalah kapal perang milik Kerajaan Belanda yang belum ditemukan, yakni Kapal Prince Hendric; Kapal Ramtoune atau Koning der Nederlanden, dan Kapal Argus. Berdasarkan analisa hasil geolistrik, analisa foto satelit dan analisa data sejarah, maka kapal yang berada di perut Bukit Kepayang diduga kuat adalah Kapal Koning der Nederlanden,” ungkap Hadi.

Ditambahkan Hadi, nantinya baik kapal maupun isi kapal, selain akan menjadi objek wisata unggulan, juga menjadi objek penelitian dari berbagai aspek ilmu pengetahuan. “Lalu destinasi kapal kuno ini akan mendukung program pemerintah dalam pengembangan kawasan wisata internasional di Bakauheni. Bahkan bisa jadi kapal kuno itu nantinya akan menjadi ikon wisatanya karena memang sejak letusan tahun 1883, Krakatau sudah mendunia. Wisatawan bisa menyaksikan bangkai kapal di dalam bukit yang menjadi bukti nyata kedahsyatan tsunami/letusan gunung api bawah laut tersebut,” tutupnya. (datuk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here