RI Darurat Kesehatan, TNI-Rakyat Lawan!

0
530

Dari narasi yang dibangun pemerintah mengesankan bahwa meledaknya pandemi Covid-19 di Indonesia karena rakyat tidak patuh dengan prokes. Rakyat masih berkeliaran, berkerumun, bahkan berwisata tanpa mengindahkan prokes. Akibatnya terjadi ledakan rakyat yang terpapar virus Covid-19. Bahkan juga dibangun narasi dan sengaja di-blow up bahwa membuncahnya Covid-19 setelah warga ramai-ramai pulang kampung pasca Lebaran lalu.

Padahal jika kita runut ke belakang, “keteledotan” pemerintah lah yang menyebabkan virus Covid-19 menggila di Tanah Air. Dimulai dari tetap dibukanya penerbangan internasional ketika virus Covid gelombang kedua sedang berkecamuk di berbagai negara lainnya dengan alasan bahwa WHO tidak merekomendasikan penerbangan internasional ditutup.

Bahkan karena saking tidak waspadanya, pada saat virus Covid-19 varian Delta sedang merajalela di India, pemerintah Indonesia malah menerima kedatangan pengungsi WNA India yang ingin menyelamatkan diri dari varian Delta.

Kemudian, berbagai usaha pengalihan isu di-blow up oleh para buzzerRp bayaran pemerintah agar “kedunguan” ini tidak berubah menjadi bencana. Berbagai isu digaungkan, termasuk soal dr Lois dan banyak rakyat yang ogah divaksin sehingga gampang terpapar virus.

Namun, realita di lapangan banyak rakyat yang sudah divaksin, terutama nakes yang terpapar virus. Dan dibilang jika pun terpapar tidak begitu para parah. Namun buktinya, banyak di antara nakes yang meninggal karena Covid adalah mereka yang sudah divaksin dengan vaksin Sinovac dua kali. Lalu mau berkilah apa lagi?

Kembali ke soal rakyat ogah divaksin, penulis membuktikan sendiri apa benar rakyat yang tidak mau divaksin atau vaksinnya yang kurang? Akhir Juni lalu, penulis mendatangi Puskesmas Hajimena, Kec Natar, Kab. Lampung Selatan. Jawaban petugas bahwa vaksin sedang kosong dan masih menunggu kiriman. Jika pun vaksin datang pada bulan Juli maka diprioritaskan untuk vaksin kedua bagi guru dan lansia yang sebelumnya sudah divaksin pertama pada awal Juni lalu.

Awal Juli lalu, salah seorang warga Perumahan Bataranila, Desa Hajimena, Kec Natar pernah mendatangi Puskesmas Kedaton untuk minta divaksin, petugasnya menjawab bahwa mereka hanya melayani warga yang KTP-nya Kota Bandarlampung. Kemudian petugas menyarankan warga tersebut ke Kompleks Satuan Logistik (Satlog) Korem 043/Gatam Jln. Soekarno Hatta, Bandar Lampung. Ketika mendatangani markas tentara tersebut, petugas piket menyatakan bahwa jadwal vaksinasi sudah lewat yakni tanggal 1 Juli 2021. Petugas menyarankan, warga tersebut ke Kodim 0410 Bandarlampung, tapi lagi-lagi upayanya sia-sia karena warga yang mendaftar sudah melebihi stok vaksin yang disediakan petugas.

Masih belum menyerah, warga ini dapat info bahwa ada pelayanan vaksin di Poltekes Tanjungkarang di Jl Soekarno-Hatta, Rajabasa, Bandarlampung. Ketika didaftarkan via online oleh putrinya, warga lansia tersebut sudah tidak kebagian karena pendaftar sudah penuh. Atas saran mantan Kadinkes Kota Bandarlampung, warga ini mengontak Klinik Bimu Medika Muhammadiyah, di Way Dadi, Bandarlampung, jawaban petugas, stok vaksin lagi kosong, jadi hanya bisa mendaftar saja dulu, jika vaksin sudah datang baru dikabarkan.

Pada minggu kedua Juli, Puskesmas Hajimena sudah menerima stok vaksin. Karena saking sadarnya rakyat akan perlunya vaksin guna mencegah terpapar virus Covid, diperkirakan hampir 300-an rakyat tumpah ke Puskesmas tersebut. Sementara prioritas alokasi vaksin tersebut untuk lansia dan guru yang pada bulan sebelumnya sudah menerima vaksin yang pertama. Akibatnya, sebagian besar rakyat terpaksa pulang dengan kecewa karena tidak mendapat vaksin.

Terakhir Jumat (22/7) muncul pernyataan dari Kadiskes Provinsi Lampung dr Reihana bahwa pihaknya baru menerima 1.103.560 dosis vaksin sehingga ada kekurangan 13.515.937 dosis guna memenuhi target sasaran 6.645.226 penduduk Lampung. Reihana menjelaskan, dari jumlah sasaran vaksinasi, satu orang mendapat dua kali suntikan dosis, dan ada 10 persen tambahan jika belum terdaftar.

Jadi wajar jika warga sudah bolak-balik ke sana kemari mencari tempat pelayanan divaksin tetapi tidak mendapat pelayanan. Bahkan seperti ditulis beberapa media, sampai ada warga yang sudah dua minggu berkeliling mencari vaksin, akhirnya bukan vaksin yang didapat, melainkan kekecewaan yang diterima. Dan wajar pula jika di Lampung perkembangan serangan virus cukup tinggi dan yang meninggal terus melonjak karena prosentase rakyat yang divaksin masih sangat rendah.

Kalau sudah begini, sebetulnya siapa yang tidak siap, apakah rakyat yang ogah divaksin atau pemerintah yang tidak mampu menyediakan vaksin bagi rakyat—Kita tidak bicara sejauh mana evikasi vaksin yang disuntikan kepada rakyat. yang di negara produsennya sendiri menggunakan vaksin impor dari negara lain.

Yang dilakukan malah, sudah hampir sebulan pemerintah mengekang rakyat agar tidak kemana-mana, tanpa memberi mereka bantuan. Kalau ASN, TNI/Polri, pensiunan, pegawai swasta masih mending karena masih menerima gaji. Tetapi bagi warga yang harus berdagang, bekerja di lapangan, apa bisa hanya makan angin, sementara anginnya pun mungkin sudah mengandung virus. Apakah imun tubuh rakyat akan meningkat dan mampu melawan virus pada saat perut kelaparan– tidak lagi sekadar kkurang gizi?

Ketika rakyat tidak mendapat vaksin, sementara mereka harus tetap beraktivitas, yang terjadi adalah adu kuat. Kuat imun tubuh rakyat atau kuat virus. Perang tanding antara rakyat tidak bersenjata dan hanya bertameng seadanya (masker) dengan virus yang sudah terbukti melumpuhkan dunia–yang sedang dipertontonkan pemerintah Indonesia kepada dunia. Jadi wajar saja jika berbagai negara memulangkan warganya ke negara mereka masing-masing karena kondisi Indonesia yang sudah darurat kesehatan.

Ketika rakyat sedang bergumul dengan virus, di sisi lain para pejabat, pengusaha dan pemegang kuasa lainnya sedang berlomba melakukan persekongkolan jahat dengan memanfaatkan serangan virus ini untuk menangguk keuntungan sebesar-besarnya. Tidak peduli– halal, haram– semuanya hantam yang penting pundi-pundi menggunung sehingga kalau bisa tidak hanya cukup semua keturunan sampai kiamat, tapi mungkin juga untuk bekal di akhirat.

Dari berbagai media kita baca, ada rumah sakit yang mengklaim pasien–menderita penyakit lain–, namun ketika meninggal divonis korban Covid. Ada pula dokter di bandara yang memaksa penumpang pesawat tidak boleh melakukan tes PCR selain darinya sebagai pembanding. Bermacam tingkah polah berbagai elemen yang terkait pandemi ini dipertontonkan secara vulgar di tengah-tengah rakyat yang sedang ketakutan.

Menyaksikan kondisi saat ini, penulis ingat cover sebuah majalah berita “Editor”-pada era 90-an di mana halaman covernya berwarna hitam, lalu di bagian bawah sebelah kanan tertulis dengan huruf warna putih sehingga kelihatan mencolok yang berbunyi: “Negeri Dengan 1001 Bajingan.” Jadi kasarnya ngomong, itulah yang terjadi di Indonesia ssat ini.

Padahal seharusnya, seperti saat nenek dan kakek kita berjuang melawan penjajah hampir seabad silam yang diperlukan adalah bahu membahu dari semua elemen bangsa sehingga Jepang sebagai pemenang Perang Dunia Pertama bisa diusir dan Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia Kedua bisa dipaksa balik pulang. Bahkan seorang jenderal Sekutu yakni Brigjen Malaby terbunuh dalam pertempuran 10 November 1045 di Surabaya. Padahal sehebat-hebatnya Perang Dunia tidak sampai ada jenderal tentara Sekutu yang terbunuh.

Seharusnya pemerintah dan rakyat berjibaku melawan virus. Segala kemampuan rakyat dioptimalkan untuk mampu mengalahkan virus. Menurut cerita bapak penulis yang ikut berjuang pada agresi Belanda pertama dan kedua, saat itu semua kemampuan rakyat digunakan untuk mengusir Belanda.

Bahkan rakyat yang sehari-harinya mengambil madu lebah, sampai membawa berkarung-karung lebah yang dimasukan oleh rakyat yang kebal senjata ke markas tentara Belanda di Payakumbuh, Sumatera Barat pada tengah malam. Ketika lebah sudah berkeliaran dan menyengati tentara Belanda yang sedang tidur, lantas mereka berlarian keluar dan “tentara rakyat” sudah siap dengan bambu runcing.

Kini pada saat melawan virus, potensi rakyat kita belum dioptimalkan, malah terkesan disingkirkan. Pengembangan vaksin merah putih tidak mendapat dukungan dari pemerintah. Vaksin Nusantara terkesan dihambat pengembangannya. Pemerintah malah lebih senang mengimpor vaksin Sinovac yang di negeri produsennya sendiri malah tidak mendapat prioritas. Apakah memang memang tujuannya untuk memperkaya negara lain, bukan menyelamatkan rakyat sendiri?

Yang dibesar-besarkan di berbagai media malah suasana ketakukan. Ambulan berseliweran. Polisi dan Satpol PP dengan mobil bersirene keliling kota dan tidak jarang menghajar rakyat yang hanya mencari sesuap nasi untuk mengganggal perut. Sampai-sampai Pak Tua, tukang sol sepatu di Pasar Tengah, Tanjung Karang, Lampung dengan berurai air mata bertutur lirih, “Penjajah Belanda saja tidak sekejam itu kepada pribumi saat memungut belasting (pajak). Ini Satpol PP anak-anak kita sendiri main bentak dan ancam kepada pedagang.”

Karena perkembangan jumlah rakyat yang terpapar virus Covid tidak kunjung turun maka solusinya jangan lagi memperpanjang PPKM dengan istilah apapun—mau level-levelan berapa kayak ayam geprek saja–, karena akan menambah panjang kesengsaraan rakyat lapis bawah, tanpa disertai bantuan guna memenuhi kmebutuhan hidupnya. Apalagi disertai dengan berbagai penyekatan jalan. Justru dengan banyaknya jalan yang disekat, keluarga pasien yang mencari obat jadi terhambat sehingga penderita tidak mendapat obat tepat waktu.

Yang seharusnya dilakukan, rakyat tetap diberikan kesempatan beraktivitas mencari sesuap nasi, tetapi dikawal oleh TNI, Polri dan Satpol PP dengan cara-cara yang sopan. Sudah saatnya, TNI turun gunung, kondisi negara sudah genting. Rakyat yang mati sudah bergelimpangan dan yang dirawat makin banyak.

Bukan kah sejatinya fungsi TNI adalah menjaga kedaulatan negara dan bangsa dari berbagai serangan baik dari dalam maupun dari luar. Kini serangan datang dari dalam, berupa virus ganas yang mematikan. Peran TNI selama ini berupa memperbanyak lokasi pelayanan vaksin, belum cukup.

Lalu pemerintah, optimalkan potensi anak bangsa dalam menangkal virus, libatkan para pakar dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Jangan lagi merasa hebat. Apalagi semuanya bergantung kepada asing. Sebab jangan-jangan memang kita diberi vaksin KW2 sehingga Covid kian menggila!

Hingga Jumat (23/7) rakyat yang meregang nyawa akibat virus Covid-19 sudah mencapai 80.598 orang. Sementara jumlah kasus positif virus corona tercatat ada penambahan 49.071, dari sebelumnya 3.033.339 kasus.

Dalam perang agresi Belanda pertama dan kedua sejak 1947 hingga 1949, mungkin tidak sebanyak itu rakyat sipil yang meninggal akibat perang. Ini artinya, skala perang melawan virus selama satu setengah tahun ini sudah lebih hebat dari saat melawan Belanda dan Jepang. Mau tunggu korban lebih banyak lagi??? (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here