Digitalisasi Bantu Petani Tingkatkan Produksi

0
595

TRABAS.CO—Pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian merupakan keharusan. Bahkan digitalisasi merupakan solusi guna meningkatkan efisiensi agar memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.

Demikian terungkap pada webinar Suara Agrina bertajuk “Solusi Digital untuk Meningkatkan Profit dan Efisien, akhir pekan lalu. Webinar dibuka dengan keynote speaker Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, MEc, Ketua Dewan Redaksi Majalah AGRINA dan Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc, Dirjen Hortikultura Kementan yang diwakilkan kepada Dr. Ir. Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si, Sesditjen.

Tampil menjadi pembicara, Antonio Marheunda, Owner INTA Crop Technology Spain; Dr. Ir. Agung Prabowo, M.Eng, Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BPP Mektan) diwakilkan kepada Anto Setiawan dari PT PT Daya Sentosa Rekayasa (DSR); Ir. Dadan Hidayat, M.Si, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jabar; dan Juju Rukman, SP, MP, Kepala Balai UPTD Balai Benih Tanaman Kentang.

Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M. Ec mengawali pemaparannya dengan mengatakan, inovasi bukanlah pilihan dan bukan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Namun, jangan sampai terjebak, teknologi canggih hanyalah alat bukan tujuan. Teknologi buat pelaku utama yaitu para petani. Tujuannya meningkatkan efisien, peningkatan pendapatan, dan mencegah kerusakan lingkungan.

“Pertanian bermacam-macam, ada petani gurem, usaha manengah dan bermodal besar. Tingkatan kesiapannya pun berbeda-beda untuk masuk ke dalam agribisnis cerdas. Namun, yang perlu dilakukan yaitu tingkatkan kesadaran pemangku kepentingan bukan hanya petani, tapi semua pelaku agribisnis,” jelasnya pada webinar yang diikuti peserta melalui kanal zoom meeting.

Penguatan SDM bukan hanya di institusi pendidikan, tapi juga pemerintahan (smart goverment). Kalau tidak smart bagaimana petani bisa smart. Program pertanian modern akan menaikkan petani dan organisasinya secara sistematis. “Penyuluhan kita bagaimana mengorganisir para petani agar dapat menggunakan teknologi yang efisien. Pemerintah perlu mempersiapkan regulasi yang mendukung percepatan investasi dan percepatan agribisnis,” jelas guru besar IPB tersebut.

Sementara Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc, Dirjen Hortikultura Kementan yang diwakilkan Dr. Ir. Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si menyatakan, konsep digitalisasi pertanian, pertama adalah EWS yang terkait cabai dan bawang. Registrasi kampung hortikultura, simethris (sistem mengawal wajib tanam), perbenihan horti, gerdal horti, digitalisasi standar mutu, product traceability, integrated logistic system, dan horticulture war room. Ini semua satu data dasar hortikultura berbasis data dari kecamatan yang meliputi produksi, produktivitas, luas tanah, dan lain-lain.

“Sekarang kita mulai membangun pertanian melalui pendekatan digital, teritegrasi dengan program konstratani. Sistem monitoring tanam hortikultura strategis, informasinya secara real time. Komoditas horti secara online ini terus dikembangkan sampai di level atas sehingga tidak ada lagi tumpang tindih,” urainya.

Diterangkannya, data produksi benih hortikultura, data perubahan iklim horti, serangan OPT bisa diakses online sistem. Bahkan juga dikembangkan digitalisasi standar mutu, aplikasi untuk registrasi kampung sayuran, buah, pembaharuan, tanaman obat, dan aplikasi blockchain hortikultura.

“Juga dikembangkan pemasaran horti. Ada marketplace yang fungsinya sebagai wadah promosi produksi, kepastian ketersediaan pasokan, dan infomasi komoditas horti. Digitalisasi hortikultura, sudah mulai bergerak dan teknologi dilaksanakan di horti. Smart sistem juga sudah dilaksanakan di kampung-kampung,” tambah Retno pada webinar dengan moderator Pemred Majalah AGRINA Windi Listianingsih.

Berikutnya pembicara asing Antonio Marheunda yang merupakan owner INTA Crop Technology Spain menguraikan manfaat digitalisasi pertanian, seperti fertigasi. Disebutkannya, fertigasi dilakukan langsung pada akar tanaman yang merupakan kombinasi prosesor fertigasi solusi dan pH kontrol sehingga adanya penyerapan maksimum pada tanaman.

“Fertigation machine adalah gambaran model irigasi room, mesin tang untuk pupuk dari tangki A, B, C, bisa mengatur pupuk yang dibutuhkan. Jika pH 6,7 bisa dilakukan dengan sistem ini, salah satu sistem mitigasi yang akan dialirkan ke tanaman,” katanya.

Dijelaskannya, alat fertilazer tang akan mengatur proporsi yang dibutuhkan dan akan masuk ke dalam saluran air. Sistem ini ada ada 16 model program yang bisa dilakukan sehingga dapat menentukan berapa banyak air yang dikeluarkan. Contoh, area kebun seluas 65 ha, mengunakan irigasi sistem untuk monitoring sensor tanah dengan kedalaman tanah terdapat blok dengan 6 sensor di lahan.

Desire Mektan
Pembicara lainnya Dr. Ir. Agung Prabowo, M.Eng, Kepala BPP Mektan yang diwakilkan oleh Anto Setiawan di PT DSR lebih teknis menjelaskan soal smart irigasi, otomatisasi sistem desire guna mewujudkan sebuah teknologi inovasi di bidang automatisasi.

Disebutkannya, BPP Mektan bekerja sama dengan DSR guna mewujudkan teknologi otomatisasi di bidang pertanian melalui teknologi yang diberi nama Desire Mektan. Desire Mektan, terdiri dari center desire, soil desire, tank desire, power desire, center desire dan unit pengontrol modul lainnya.

Center desire merupakan unit yang mengontrol modul lainnya, merupakan bagian utama dar sistem otomatisasi. Center desire mampu mengeksekusi ratusan instruksi dan menyimpan data. Dengan center desire ini sistem bisa memberikan informasi melalui email, misal informasi suhu GH, EC pH larutan nutrisi. Modul digunakan guna mengatur pemupukan dan pembacaan sensor suhu air, pH juga EC pada larutan pupuk.

“Soil desire, sebagai penganalisa substrat media tanam, dirancang untuk memantau media tanam. Berfungi untuk mengukur kelembaban dan suhu media tanam dan menggabungkan sensor keamanan guna mendeteksi adanya air irigasi yang berlebih,” urainya.

Dua pembicara terakhir Ir. Dadan Hidayat, M.Si, dan Juju Rukman, SP, MP, lebih banyak menguraikan aplikasi teknologi Internet of Things (IoT) smart farming. Dadan menyatakan, IoT terdiri dari 2 komponen utama, identifikasi kualitas tanah dan sistem penyiraman air.

“Ini dapat efektif dan efisiensi dalam mengontrol kebutuhan air, kelembaban tanah, bisa mengefisienkan tenaga kerja karena alat yang bekerja. Kita hanya mengontrol dari luar. Terjadi peningkatan produksi tanaman hingga 40% dibandingkan dengan sebelum menggunakan IoT,” tambahnya. (alsya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here